Senin, 02 Maret 2020

Imlek Selalu Ada Jeruk Mandarin hingga Jeruk Ponkam, Ternyata Ini Makna Jeruk Bagi Masyarakat China

Imlek Selalu Ada Jeruk Mandarin hingga Jeruk Ponkam, Ternyata Ini Makna Jeruk Bagi Masyarakat China - Perayaan Imlek selalu ada jeruk mandarin hingga jeruk ponkam, ternyata ini makna jeruk bagi masyarakat China. 

Tinggal dua hari lagi jelang Tahun Baru China atau Imlek 2020, tepatnya Sabtu, 25 Januari 2020. Sejumlah tradisi dilakukan masyarakat China pada perayaan Imlek.  Tak hanya soal tradisi berpakaian, makanan yang dihidangkan pun punya makna tersendiri. Masyarakat Tionghoa kerap menyajikan jeruk mandarin atau jeruk ponkam saat perayaan Imlek tiba. 



Selain angpau, kue keranjang, dan nuansa merah, ciri khas lainnya dari perayaan tahun baru Imlek adalah jeruk mandarin dan jeruk ponkam. 

Mengapa harus jeruk, ya? Yuk, kita cari tahu! 


1. Buah Pembawa Rezeki 

Dalam bahasa Mandarin, jeruk disebut dengan ‘chi zhe’. Chi artinya rezeki dan zhe artinya buah.  Jadi, jika digabungkan, jeruk artinya menjadi buah pembawa rezeki. Selain itu, warna oranyenya yang cerah dan cantik juga memiliki makna tersendiri, Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, warna oranye cerah ini dianggap sebagai lambang emas. Secara tidak langsung, emas di sini artinya rezeki yang berupa uang. 

2. Membagikan Jeruk Agar Rezeki Terus Bertambah 

Konon, disebut jeruk mandarin karena pada zaman dulu buah ini hanya disediakan untuk para pejabat di Tiongkok kuno. Namun, saat ini buah jeruk mandarin sudah banyak dibagikan ke sanak keluarga saat Imlek. Maksudnya agar rezekinya terus bertambah. 

3. Kebahagiaan Saat Memberi 

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa rezeki itu datang dari usaha dan kerja keras. Nah, jika mendapatkan sesuatu, kita tidak lupa untuk bersyukur dan kembali berbuat kebajikan. Dengan demikian, bila pada saatnya tiba, semua rezeki dan kebahagiaan tidak akan pernah habis dan terus mengalir. 

Intinya, dengan memberi maka kita tidak akan kekurangan. Buah jeruk memiliki rasa yang beragam. Ada yang asam dan ada yang manis, demikian juga kehidupan manusia dari sesuatu yang kita perbuat juga tidak selamanya manis. 

Ada yang asam sudah wajar, menjalani hidup yang penuh dengan pahit getir, tetapi jangan lupa masih ada kenangan manis yang bisa dipetik dan diperoleh. Selain jeruk ponkam dan kue kerangjang, satu lagi yang menjadi sajian khas Tahun Baru China atau Imlek. 

Ada makanan yang kerap hadir saat Imlek, yaitu Yu Sheng.  Dilansir dai bobo.grid.id, Yu sheng adalah sejenis salad yang terdiri dari lebih dari 15 bahan. Bahannya meliputi sayuran, buah, ikan, yang dilengkapi dengan bumbu kayu manis bubuk, wijen, keripik, minyak ayam, lada putih, dan saus plum. 

Bahan-bahan ini disajikan di tengah meja berupa tumpukan yang terpisah. Dilansir dari Kompas.com, tradisi Yu Sheng berasal dari Singapura, tepatnya di kalangan pendatang dari Kanton. Ikan dipilih sebab dari bunyi 'yu' yang artinya 'ikan' dalam bahasa Kanton sama bunyi dengan 'rezeki'. 

Kemudian 'lo hei' disingkat 'hei' yang artinya 'lemparkan' punya bunyi yang sama dengan 'bahagia'.  Nantinya bahan-bahan Yu Sheng ini akan diaduk rata sebelum dimakan bersama-sama. Cara mengaduknya pun unik, Yu Sheng ini diaduk menggunakan sumpit bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. 

Yu Sheng ini nantinya diaduk bolak-balik dan sesekali bahan diangkat tinggi-tinggi kemudian dijatuhkan kembali. Dipercaya bahwa semakin tinggi mengaduknya akan semakin baik maknanya.  Yu Sheng ini memiliki makna kebersamaan, yang terdiri dari bahan dan bumbunya yang bermacam-macam. 

Hal ini melambangkan rezeki yang berlimpah serta keberuntungan yang banyak. Uniknya kalau menilik budaya makan orang Kanton, hampir tidak ada santapan ikan mentah. Namun catatan orang kanton menyantap ikan mentah ditemukan dari catatan kuno pelajar Liu Su dari zaman Dinasti Sui (581-618) dan Dinasti Tang (618-907). 

Cara memakan yu Sheng ini sangatlah unik karena sebelum dicampur, daging ikan mentah dibubuhi air jeruk dan bubuk jahe supaya aman dimakan. Yee sang berasal dari frase “yu sheng” yang berarti ikan segar alias mentah (“yu”: ikan; “sheng”: mentah). 

Seremoni sekaligus hidangan salad yee sang baru mulai populer di Indonesia sekitar 5-10 tahun belakangan. Yu Sheng ini menganut mitologi kuno China disantap pada hari ketujuh Imlek. 

Dilansir Kompas.com, hal ini karena, mitologi kuno China menganggap bahwa hari ketujuh pada bulan pertama kalender Lunar China adalah hari yang istimewa.

Load comments